Mutiara Kata

“Orang baik jarang mengaku jahat, tapi orang jahat seronok mengaku baik.”

Saturday, 11 June 2011

SHILATURRAHIM-TALI YANG KELAK MENJADI SAKSI

Di antara surga dunia adalah bertautnya hati keluarga dan kerabat dalam ikatan kasih sayang. Atau yang lazim disebut silaturrahim. Dengannya, urusan menjadi mudah, yang berat menjadi ringan, karena ada sanak saudara yang saling membantu atas dasar cinta. Di samping kebahagiaan hati, rezeki dan barakah umur menjadi bagian yang melengkapi kesempurnaan manfaat silaturrahim. Nabi bersabda:
                                               مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه
            ُ
"Barangsiapa yang ingin mendapatkan kegembiraan berupa kelapangan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung silaturrahim"
  (HR Muslim)

Makna dilapangkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya adalah barakah dalam rejeki dan umurnya. Sehingga harta yang dimiliki lebih mencukupi dari kekayaan melimpah yang dimiliki orang kaya. Barakah umur berarti banyaknya pahala yang ia dapatkan dalam waktu yang singkat, ia laksana orang yang panjang usianya yang memenuhi umurnya dengan amal shalih.

Bisa pula bermakna hakiki. Di mana Allah menjadikan silaturrahim sebagai sebab dimudahkannya rejeki, dan dipanjangkannya umur.
Shilaturrahim bukan saja berfaedah bagi dunia, tapi juga perintah yang diwajibkan Allah, diberi pahala orang yang melakukannya dan diancam dosa bagi orang yang meninggalkannya. Bahkan, karena pentingnya silaturrahim, Allah akan menyambung kasih sayang kepada orang yang menjalin silaturrahim, dan Allah akan memutuskan kasih sayang-Nya bagi siapa yang memutuskan hubungan kekerabatan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Muslim.

Tak hanya itu, Allah akan menyegerakan pahala di dunia sebelum pahala di akhirat bagi siapapun yang menyambung shilaturrahim, dan Allah akan menimpakan bencana di dunia bagi siapa yang memutuskan shilaturrahim, sebelum bencana yang lebih dahsyat di akhirat kelak. Nabi n bersabda:

لَيْسَ شَيْءٌأُطِيْعَ اللهُ فِيْهِ أَعْجَلُ ثَوَاباً مِنْ صِلَةِ الرَّحِمِ وَلَيْسَ شَيْءٌ أَعْجَلُ عِقاَباً مِنَ اْلبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ))

"Tiada suatu ketaatan kepada Allah yang lebih disegerakan pahalanya dari shilaturrahim, dan tiada suatu dosa yang lebih disegerakan siksanya di dunia dari melampaui batas dan memutuskan kasih sayang"
(HR Baihaqi dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami')

Mari kita tengok kembali, siapa saja yang termasuk kerabat kita, lalu berapa banyak di antara mereka yang telah kita jalin shilaturrahim, berapa pula yang telah kita putus ikatan kasih sayangnya. Karena shilaturrahim adalah tali, yang kelak akan bersaksi pada hari kiamat, siapa yang telah menyambungnya, siapa pula yang telah memutuskannya. 

LAHIRKAN PERASAAN IKHLAS DALAM IBADAT

“oleh itu, maka sembahlah kamu akan Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada-Nya (dan menjauhi syirik), sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai (amalan kamu yang demikian).                                                                                             (Surah al-Mukmin :14)

Huraian
Ulama Hasan al-Banna memberikan pengertian ikhlas sebagai sengaja melakukan perbuatan semata-mata untuk mencari keredhaan Allah s.w.t. dan memurnikan perbuatan daripada segala bentuk kesenangan duniawi, sehingga ikhlas adalah tindakan berupa mengesakan Allah s.w.t. dan melakukan sesuatu hanya untuk Allah s.w.t.
Sungguhpun begitu, kebanyakan kita meremehkan unsur keikhlasan ini. Kemungkinan sebabnya adalah kerana ia sangat sulit dilakukan kerana untuk bersikap ikhlas, seseorang harus mampu menyingkirkan sifat angkuh dan ego di dalam dirinya.
Begitu juga dengan sifat menunjuk-nunjuk (riya'). Seorang Muslim yang mampu menjalani ibadah secara ikhlas, telah dijanjikan berbagai-bagai keutamaan oleh Allah s.w.t. sebagaimana yang dinyatakan di dalam al-Quran.
Selain itu, ikhlas adalah salah satu syarat bagi seorang Muslim agar amal ibadahnya diterima oleh Allah s.w.t.

Beberapa tanda keikhlasan akan dapat dilihat jika seorang Muslim itu merasa takut untuk melanggar perintah Allah s.w.t. atau dia melakukan sesuatu kebajikan itu secara diam-diam tanpa mewar-warkannya kepada orang lain.
Seorang yang ikhlas juga akan selalu merasa dirinya kurang di sisi Allah s.w.t.
Akibatnya dia akan selalu terdorong untuk terus meningkatkan amal ibadahnya, bukannya merasa puas dan bangga atas segala ibadah yang telah dikerjakannya.

Kesimpulan:
Ikhlas adalah kunci kehambaan seseorang manusia itu terhadap Tuhannya. Tanpa rasa ikhlas, kita akan sentiasa menipu diri kita sendiri seolah-olah seorang munafik yang tidak jujur di dalam perbuatannya.
Justeru setiap Muslim hendaklah berusaha untuk meningkatkan keimanannya agar keikhlasan itu muncul di dalam jiwa, lantas menerbitkan sifat
taqwa dan hanya mengharapkan keredhaan Allah s.w.t. sahaja tanpa menghiraukan ancaman mahupun ejekan musuhnya.